# selamat datang di blog PC IPNU - IPPNU Kota Pekalongan, silahkan isi buku tamu dan tinggalkan komentar #

Selamat dan Sukses atas terselenggaranya Muktamar NU

Selasa, 09 Februari 2016

TENTANG CAK NUN KITA


Oleh: M Husnaini
 
Pada suatu pengajian Cak Nun di Demak, tiba-tiba ada seorang remaja naik ke atas panggung. Dengan sigap, panitia acara lantas mengusir remaja laki-laki gila tersebut, karena panitia dan masyarakat sekitar tahu bahwa remaja laki-laki tersebut memang terkenal gila betulan.

Di saat ribuan orang menganggapnya gila, hanya satu orang yang mau menyapa hatinya. Cak Nun memanggil remaja laki-laki gila tersebut untuk kembali ke atas panggung. Di saat ribuan orang menganggapnya seperti virus penyakit sehingga harus dijauhi, bahkan kalau perlu diludahi kalau nekat mendekat, Cak Nun langsung mendekap tubuh bocah kesepian tersebut.

Bocah tersebut pun sangat kaget, karena di dunia ini masih ada orang yang mau menyapa hatinya, bahkan memeluk tubuhnya. Tanpa ada rasa jijik sedikit pun. Tanpa ada rasa malu sedikit pun. Sosok berbaju putih tersebut justru memeluknya semakin mesra dan menatap ribuan jamaah sambil tersenyum. Seolah Cak Nun ingin bilang pada masyarakat Demak, “Ini salah satu anakku.”

Remaja laki-laki itu memang bocah kesepian. Namanya Edy Setiawan. Sudah yatim-piatu, dianggap orang gila pula. Hidup sebatang kara di dunia ini. Tidak ada yang mau menjadi temannya. Mungkin kalau ia mendekati teman-teman sebayanya, ia akan dipukuli agar takut mendekat lagi. Mungkin kalau ia duduk-duduk di warung makan, ia akan langsung diberi kerupuk dan diusir.

***

Seorang Muhammad Ai(nun) Nadjib memang manusia berlian. Hati beliau bening, mengkristal indah, dan bisa memancarkan cahaya kasih sayang. Meski luar biasa “mahal”, seorang Cak Nun tidak risih bercengkerama dengan rakyat jelata, bahkan mau memeluk orang gila.

Meski diakui kadar intelektualitasnya oleh profesor-profesor dari negara maju di Eropa Barat, Cak Nun mau mendidik orang-orang di perdesaan yang mungkin kebanyakan hanya tamatan wajib belajar 9 tahun. Bercengkerama semalam suntuk. Mendengarkan keluh kesah. Membesarkan hati. Selama 20 tahun keliling Indonesia tanpa henti. Sudah “jalan kaki” ke lebih dari 1.300 desa di 28 provinsi.

Cak Nun tidak mengenal gengsi seperti kebanyakan diri kita. Meski sering keliling dunia di empat benua, bertemu petinggi-petinggi negara dan pemuka agama taraf internasional, beliau mau berteman akrab dengan kuli-kuli gendong di pasar. Meski sahabat seorang raja (Sultan HB X), beliau tetap mau kumpul-kumpul cekakakan dengan para preman dan para tukang becak.

Meski sangat ditakuti Pak SBY yang konon mengaku seorang presiden, beliau mau menerima telepon dari seorang gelandangan. Beliau tidak risih, bahkan bergembira, mendengar “laporan” pemuda pengangguran 35 tahun yang berlagak intelijen tentang situasi demo di depan DPR.

Meski di-kiai-kan oleh para kiai, Cak Nun tetap mau mengadakan pengajian khusus untuk para pelacur di beberapa tempat. Tidak pernah memvonis masuk neraka, tapi untuk membesarkan hati. Para pembaca tulisan saya ini yang dari kalangan pesantren pasti akrab dengan dua adagium ini: Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan menambah kerusakan. Menghindari mudarat lebih diutamakan daripada mengharapkan manfaat.

Kalau diri kita tidak bisa menolong para pelacur untuk keluar dari lembah hitam, diri kita jangan juga lantas memutus harapan para pelacur dari kasih sayang Allah. Ingin tampak lebih gagah dan lebih suci? Hanya orang yang tidak gagah dan tidak suci yang butuh pengakuan.

Jangankan membutuhkan pengakuan, bahkan beliau senang menutupi aneka kebesaran yang sudah melekat pada dirinya sendiri. Sekalipun keturunan Imam Zahid, tapi tidak mau dipanggil “Gus”. Perlu para pembaca tahu, Imam Zahid itu sahabat Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari, sama-sama santri kinasihnya Syaihkona Kholil Bangkalan. Tak heran pula Gus Dur sangat menyayangi Cak Nun, demikian pula sebaliknya.

***

Ketika seorang presiden “menasionalisasi” Lumpur Lapindo, bahkan menyebutnya sebagai bencana alam, akhirnya Cak Nun yang pasang badan untuk 11.800 keluarga korban. Cak Nun sendiri yang menelepon Ibu Rosmiyah Bakrie, meminta agar anaknya mau menyantuni puluhan ribu warga Sidoarjo, meski pengadilan telah menyatakan perusahaan anaknya tidak bersalah.

Ketika bentrokan antara perusahaan budidaya udang dengan petambak udang di Tulangbawang sudah memuncak, hingga menewaskan tiga orang dan membuat cukup banyak orang luka-luka, Cak Nun tampil menengahi kedua pihak. Beliau pun meminta diadakannya perubahan paradigma pemerintahan kabupaten Tulangbawang dan pembenahan pada tingkat elit perusahaan. Alhasil, selang beberapa waktu, kedua pihak tersebut tidak hanya rukun, tapi juga semakin sejahtera. Perusahaan budidaya udang semakin laba, para petambak udang semakin sejahtera.

Tentu masih banyak cerita heroik lainnya. Lalu, demi pamrih apakah Cak Nun tampil dimana-mana? Popularitas? Uang?

Jika Anda menganggap perjuangan seorang Muhammad Ainun Nadjib untuk materi dunia, pasti Anda ditertawakan Pak Harto. Sedikit cerita, sejengkel-jengkelnya Pak Harto pada kritikan pedas Cak Nun terkait jalannya Orde Baru, Pak Harto tidak bisa memenjarakan beliau. Pak Harto sangat tahu bahwa beliau tulus orangnya.

Satu-satunya orang yang berani “kurang ajar” pada Pak Harto hanya Cak Nun—semisal lungguh jigang atau berambut gondrong saat di istana—dan Pak Harto tidak bisa marah. Ketika Cak Nun bilang kepada Pak Harto untuk segera mandeg pandhito, Pak Harto hanya diam tersenyum dan mengangguk. Sebab Pak Harto tahu Cak Nun kalau ngomong sesuatu bukan untuk dirinya sendiri. Diiming-imingi saham perusahaan, Cak Nun menolak. Ditawari jabatan menteri pada 1980-an, Cak Nun juga menolak.

Semua perjuangan ikhlas demi rakyat. Orang bisa berbohong dan berhasil membohongi banyak orang, tapi tidak akan bisa bertahun-tahun. Level penipu ulung sekalipun. Sebab manusia digariskan tidak akan tahan menjadi bukan dirinya sendiri lama-lama. Ini rumusnya.

Seorang Muhammad Ainun Nadjib mampu mengayomi rakyat 20 tahun lamanya, tanpa pernah meminta upah seperser pun. Dari 20 tahun lalu hingga detik ini beliau tidak pernah berubah. Selalu mengayomi rakyat.

Ketika dulu masih muda, setelah shalat di mushola, beliau mendapat suatu ilham. Tanpa pikir panjang, beliau segera menelepon saudara-saudaranya di Jombang. Minta dicarikan empat orang yang sangat miskin tapi akhlaknya baik malam itu juga. Sebab besok paginya beliau akan mengirim uang ke Jombang, untuk ongkos naik haji keempat orang tersebut.

Tetap saja begitu hingga sekarang. Beliau tetap sering mengirimkan uang ke banyak orang miskin. Entah untuk ongkos naik haji, entah untuk modal usaha bikin warung kelontong, entah untuk beasiswa, dan sebagainya.

Apakah persediaan uang tersebut ada dengan jalan meminta? Atau mengajukan proposal? Tidak pernah sekalipun.

Dulu Cak Nun pernah akan diberi cek dengan nominal Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) oleh seorang pengusaha, tapi cek tersebut langsung disobek beliau. Sekadar info, menyobek cek itu aslinya tidak apa-apa, karena uangnya tetap utuh di dalam brangkas bank. “Kalau ketemu saya lagi, mending ditraktir makan saja,” kata beliau sambil tersenyum.

Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menghidupi perut dan idealisme dirinya sendiri. Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menolong orang lain dengan hasil kerja keras dirinya sendiri.

***

Indonesia ibaratnya adalah sebuah kapal yang panjangnya 12,5 kilometer. Kapal raksasa ini mempunyai 39 rusuk. Ada sekitar 15 rusuk yang sudah retak, dan sungguh kapal ini tinggal menunggu waktu untuk tenggelam, kalau tidak diperbaiki. Apalagi empat dari lima ruangan utama kapal ini sudah hancur.

Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi, yang jelas, suatu hari Indonesia akan mendatangi kesejatian, karena kepalsuan bersifat sementara dan kegelapan bersifat menghancurkan. Indonesia mau tidak mau akan mengikuti kesejatian, sebab hanya kesejatian yang memiliki perspektif masa depan cerah.

Tulisan ini sama sekali bukan untuk me-monumen-kan Muhammad Ainun Nadjib, karena haram hukumnya mabuk pada seseorang. Ketika saya menulis tentang Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus, atau yang lainnya, harapan saya adalah untuk dijadikan uswatun hasanah.

Jika kita menjadikan “Cak Nun” sebagai kata kerja yang cair dan dinamis, bukannya sebagai kata benda yang padat dan statis, maka beliau akan bernasib sama dengan Bung Karno dan Gus Dur kelak. Tidak ada manusia yang hidup abadi, tapi dengan suatu mekanisme cinta, beliau akan bisa tetap selalu hidup. Di hati kita.

Saya tidak berani berharap apa-apa pada Indonesia. Bangsa ini memang tidak butuh Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, maupun Muhammad Ainun Nadjib, karena ketiganya manusia yang agung.

Suatu hari, karena tidak kuat membayar ustadz yang muda, ganteng dan terkenal, akhirnya para TKW di Hong Kong meminta Cak Nun yang datang. Di luar dugaan, Cak Nun hanya mau dengan tiga syarat; (1) Tidak mau dibayar, (2) tidak perlu dijemput di bandara, dan (3) tidak mau tidur di hotel.

Akhirnya, Cak Nun terbang ke Hong Kong dengan kocek sendiri, menuju lokasi naik bus, dan istirahat malam di rumah inap biasa. Ketika ditanya para TKW Hong Kong kenapa sampai berbuat demikian, beliau menjawab, “Aku datang sebagai bapakmu.”

Muhammad Ainun Nadjib. Perpaduan antara kedahsyatan dengan kelembutan. Pengayom sebuah bangsa yang yatim
Baca Selengkapnya ...
Selasa, 04 Agustus 2015

GALERI MUKTAMAR NU KE 33 DI JOMBANG

Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia































Baca Selengkapnya ...
Senin, 12 Januari 2015

JADWAL LATPEL-LAKUT PC IPNU-IPPNU KOTA PEKALONGAN 2014-2015

Berikut ini kami sampaikan jadwal LATPEL-LAKUT PC IPNU-IPPNU Kota Pekalongan 2014-2015. Info lebih lanjut dapat menghuungi Rekan Irfan Zidny (08975124912) File dapat didownload pada link berikut ini :

https://drive.google.com/open?id=0B9fq6nEa_EBNV3IzaXhQZU0za0E&authuser=0
Baca Selengkapnya ...
Minggu, 07 Desember 2014

SERAGAM IPNU PC IPNU KOTA PEKALONGAN

Batik ipnu. Bahan primatex 90/70
Harga 50.000
Beli 50 pcs lebih harga 45.000
PESAN BISA MENGHUBUNGI
REKAN Abdullah CP. 085742222123
Baca Selengkapnya ...
Selasa, 02 Desember 2014

Daftar Siswa Terpilih Latpel Berkelanjutan dan Lakut PC IPNU IPPNU Kota Pekalongan 2014

Berikut ini kami sampaikan daftar siswa terpilih Latpel Berkelanjutan dan Lakut PC IPNU IPPNU Kota Pekalongan. Info lebih lanjut dapat menghubungi Rekan Irfan Zidni 08975124219 dan Rekan Abdullah 085742222123.

File daftar siswa terpilih dapat didownload pada link dibawah ini:
https://drive.google.com/open?id=0B9fq6nEa_EBNd0FYMlZzZFVYdjg&authuser=0
Baca Selengkapnya ...
Rabu, 13 November 2013

Susunan Pengurus PC IPNU Kota Pekalongan Periode 2013-2015

SUSUNAN PENGURUS PC IPNU KOTA PEKALONGAN
PERIODE 2013 - 2015

STRUKTUR PIMPINAN CABANG
IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA
KOTA PEKALONGAN
MASA KHIDMAH 2013 - 2015

Pelindung
1. KH. Musthofa Bakri (Syuriyah NU Kota Pekalongan)
2. H. Ahmad Rofiq (Tanfidziyah NU Kota Pekalongan)

Pembina
1. Arif Wahyudi (Kuripan)
2. M. IZZUDIN (Krapyak)
3. M. Falakhy Sidqi (Pringlangu)
4. M. Zuhri (Sokorejo)
5.M.LUTFIMAULANA (Kuripan)

KETUA : MOH ULIL HUDA WAKIL I : WASURIN WAKIL II : ABDUL QODIR WAKIL III : BUDI SUSANTO WAKIL IV : M. FURQON ISMAIL SEKRETARIS : M. BANY ADAM Z.A. WAKIL I : AHMADSHODIKIN WAKIL II : MUSYAFA'UL FATAH BENDAHARA : DANI WINATA WABEN : M. ROFI'UDIN DEPARTEMEN A. DEPARTEMEN PENDIDIKAN PENGKADERAN DAN PENGEMBANGAN SDM M. IRFAN ZIDNI ABDUL ADHIM IBNU ATHOILLAH B. DEPARTEMEN PENGEMBANGAN ORGANISASI DAN KOMISARIAT ARI SYAHPUTRA SUYOTO ARIFIN C. DEPARTEMEN JARINGAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI ABDULLAH M. FURQON M. SYAIFURROHMAN M. SHOFWAN D. DEPARTEMEN DAKWAH DAN PENGABDIAN MASYARAKAT M. SHOLEH M. NISFI AHMAD MIRZA ROMADHON E. DEPARTEMEN BUDAYA DAN OLAHRAGA M. ULIL ALBAB M. RIFQI ROHMAT LEMBAGA-LEMBAGA A. CBP WAHYU HIDAYAT (KOMANDAN) OVI FATCHURROHMAN KASNURI B. PERS A. DURIL KAIS ALBAR RIZAL JIBRAN MIFTAHUDIN C.EKONOMI M. ISA M. KHARIS MASRUR C. KONSELING PELAJAR NURUL ANWAR NUR KHOLIS FAHMI ZAWAWI
Baca Selengkapnya ...
Selasa, 05 November 2013

Kirab Ta'aruf di Tahun Baru 1435 Hijriyah

Dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1435 Hijriyah, BADKO (Badan Koordinasi Kota Pekalongan) mengadakan pawai kirab ta’aruf Santri dan Guru TPQ se Kota Pekalongan, acara tersebut diikuti kurang lebih 110 TPQ di Kota Pekalongan.
“ Kegiatan Tersebut dimulai dari pukul 6 Pagi, diawali dengan pembacaan Maulid, dilanjutkan dengan Khataman Akbar, setelah itu Mujahadah, juga Pembacaan Asmaul Husna, dan dipenghujung ajara yaitu Pawai Kirab Keliling kota Pekalongan. Pawai tersebut start di Alun-Alun Pekalongan kemudian finish di Lapangan Sorogenen. “ Demikian yang dituturkan oleh Ustad Darmawan selaku peserta Kirab Sekaligus Guru TPQ An Najah Tirto Pekalongan.
Menurut Ketua Panitia Kirab ini, Bapak Faqihuddin mengatakan “Makna dari acara tersebut  untuk memperingati tahun baru Hijriyah. Acara ini sudah sejak dari dulu terselenggarakan, saya hanya meneruskan kegiatan yang sudah ada. Acara ini dibawah naungan BADKO (Badan Koordinasi Kota Pekalongan).  Adapun pendanaan untuk kegiatan ini prinsipnya dari kita untuk kita. Artinya, setiap Santri Iuran Rp.  1000,- Guru BTQ Rp. 15000,- Pengawas BTQ Rp. 20.000,- dan digabung menjadi satu untuk kelancaran acara tersebut.”
Tujuan dari pawai Kirab tersebut agar menarik minat masyarakat untuk mendaftarkan  putra-putrinya di TPQ-TPQ se Kota Pekalongan. Harapan dari Bapak Faqihuddin selaku ketua Panitia adalah semoga kedepan kepanitiaan ini lebih baik lagi, acara ini lebih semarak lagi dan mampu menampilkan kreasi-kreasi  yang lebih kreatif dan menarik lagi, sebagai bentuk acara tandingan dengan tahun baru masehi.
Reporter : Zuhri dan Kais
Editor : Ilham


Baca Selengkapnya ...

... KISAH NYATA PEMBENCI MAULUD ...

"Suatu hari Syech Abbas Al-Maliki berada di Baitul Muqaddas Palestina untuk menghadiri peringatan Maulud Nabi SAW di mana saat itu bershalawat dengan berjamaah. Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yg berdiri dengan khidmat mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu. Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia gak pernah mau mengakui acara Maulud Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah Bid'ah Sayyi'ah (bid'ah yg jelek). Suatu malam ia mimpi duduk di acara Maulud Nabi bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi SAW ke mesjid, maka saat Rasulullah SAW tiba, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri toek menyambut kehadiran Rasulullah SAW. Namun hanya ia saja seorang diri yg gak mampu bangkit toek berdiri. Lalu Rasullullah SAW berkata kepadanya: "Kamu gak akan bisa bangkit!" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan gak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama 1 tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika sembuh dari sakitnya ia akan menghadiri acara Maulud Nabi di mesjid dengan bershalawat.Kemudian Allah menyembuhkan nya. Ia pun selalu hadir toek memenuhi nadzarnya dan bershalawat dalam acara Maulud Nabi SAW"

[Sumber : Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid al-Maulid an-Nabawi, hal 50-51, karya Syech Muhammad Alwi Al-Maliki
Baca Selengkapnya ...

TAHUN BARU HIJRIYAH Katib Aam PBNU: Siapa Lebih Buruk dari Kemarin, Celaka

Jakarta, NU Online
Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengaku gembira dengan umat Islam Tanah Air yang dalam dekade terakhir aktif memperingati tahun baru dalam kalender hijriyah. Menurut dia, ini adalah momentum terbaik bagi evaluasi diri (muhasabah).

Kiai Malik menyampaikan hal tersebut dalam program rutin Bincang Tentang NU (Bintang NU) Radio NU yang disiarkan secara online di radio.nu.or.id, Senin (4/10), pukul 10.00 WIB.

“Dan muhasabah ini diungkapkan dalam bahasa yang sangat indah oleh Sayyidina Umar bin Khattab: hasibu anfusakum qabla an tuhasabu. Wazinuha qabla an tuzanu. Lakukanlah perhitungan terhadap dirimu sebelum pihak lain menghitungmu. Timbanglah dirimu sebelum pihak lain, terutama Allah, menimbangmu,” katanya.

Kiai asal Madura ini lalu mengutip pernyataan Imam al-Ghazali yang  berbunyi, “Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, wa man kana yaumuhu mitsla amsihi fahuwa khasirun. Wa man kaan yaumuhu syarran min amsihi fahuwa halikun (Siapa harinya lebih baik dari kemarin maka beruntung, siapa yang harinya sama dengan kemarin maka merugi, dan siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin maka celaka)."

Menurut Kiai Malik, pertambahan tahun memberi beban kepada setiap manusia untuk berupaya lebih baik. Hal itu pula yang sedang diusahakan NU sebagai ormas sosial keagamaan dengan melakukan koreksi diri dan peningkatan kerja kelembagaan.

“Kita merangsang lembaga, lajnah, dan banom (badan otonom) untuk meningkatkan kiprahnya di bidang sosial itu juga agar ke depan secara lebih baik,” ujarnya.

Pada tahun 1435 hijriyah kali ini, lanjut Kiai Malik, tantangan menjadi kian besar karena menjelang musim politik 2014. Warga NU diuji idealismenya untuk tidak tergoda dengan kepentingan-kepentingan pragmatis yang dapat merugikan organisasi, bahkan Indonesia secara umum. (Mahbib Khoiron)
Baca Selengkapnya ...