Khoul ke-82 Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas Pekalongan

Bagi warga Pekalongan, ketokohan ulama yang satu ini, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Attas tidak diragukan lagi. Bukan hanya karena ilmu agama beliau yang cukup mumpuni, tetapi juga diiringi dengan perilaku dan kerendahan hati beliau yang sangat terpuji dalam menyebarkan agama Islam, serta tegas dan kukuh memerangi kemungkaran. Tidak mengherankan, meski beliau telah wafat 80 tahun yang lalu, namun semerbak ilmu yang diamalkan tidak pernah hilang, tetapi justru terus berkembang hingga kini.

Habib Ahmad bin Abdullah Al-Attas dilahirkan di kota Hajren, Hadramaut, Yaman, pada tahun 1255 Hijriah atau 1836 Masehi. Setelah menguasai Al-Quran dan mendalami dasar-dasar ilmu agama, beliau melanjutkan menuntut ilmu kepada para pakar dan ulama terkenal lainnya.

Kecerdasan, ketekunan dan keinginan beliau untuk terus belajar layakya tidak akan berhenti. Beliaupun melangkah menimba ilmu yang lebih banyak lagi di Makkah dan Madinah. Sekalipun mendapatkan tempaan ilmu dari berbagai ulama di dua kota suci itu, namun guru yang paling utama dan paling besar pengaruh didikan dan asuhannya atas pribadi beliau adalah As-Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Yang terakhir ini adalah seorang pakar ulama di Makkah yang memiliki banyak murid dan santri, baik dari Makkah sendiri maupun negara-negara Islam lainnya, termasuk para tokoh ulama dan kyai dari Indonesia, seperti Hadratul Fadlil Mbah KH Kholil Bangkalan Madura dan Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari Jombang, pendiri NU dan kakek mantan presiden Abdurrahman Wahid, KH Murtadha, tokoh ulama Betawi akhir abad 19.

Di antara murid atau orang yang seangkatan Ahmad Zaini Dahlan di Makkah adalah Imam Nawawi Al-Bantani, seorang pemukim (mukimin) Indonesia di Makkah mengarang kitab-kitab kuning, seperti Tafsir Munir yang bukan saja dijadikan acuan di Indonesia tapi juga di hampir semua dunia Islam.

Setelah usai dan lulus menempuh pendidikan dan latihan, terutama latihan kerohaniaan secara mendalam, Habib Ahmad oleh guru besarnya ditugaskan untuk berdakwah dan mengajar di Makkah. Di kota kelahiran Nabi ini, beliau dicintai dan dihormati segala lapisan masyarakat karena berusaha meneladani kehidupan Rasulullah.

Setelah tujuh tahun mengajar di Makkah, Habib Ahmad kemudian kembali ke Hadramaut. Setelah tinggal beberapa lama di kota kelahirannya, beliau merasa terpanggil untuk berdakwah ke Indonesia. Pada masa itu, sedang banyak-banyaknya para imigran dari Hadramaut ke Indonesia, di samping untuk berdagang, juga untuk menyebarkan agama Islam.

Setibanya di Indonesia, beliau kemudian ke Pekalongan. Melihat keadaan kota itu yang dinilai beliau masih membutuhkan dukungan penyiaran Islam, maka tergeraklah hati beliau untuk menetap di kota tersebut. Saat pertama menginjakkan kaki di kota ini, beliau melaksanakan tugas sebagai Imam di masjid Wakaf yang terletak di kampung Arab (sekarang Jl. Surabaya). Kemudian beliau membangun dan memperluas masjid tersebut.

Di samping menjadi imam, di masjid ini Habib Ahmad juga mengajar membaca Al-Quran dan kitab-kitab Islam, serta memakmurkan masjid dengan bacaan maulid Diba', Barzanji, wirid dan hizib di waktu-waktu tertentu. Beliau juga dikenal sebagai seorang hafidz (penghafal Al-Quran).

Melihat suasana pendidikan agama pada waktu itu yang sangat sederhana, maka Habib Ahmad tergerak untuk mendirikan Madrasah Salafiyah yang letaknya berseberangan dengan masjid Wakaf. Begitu pesatnya kemajuan Madrasah Salafiyah pada waktu itu, hingga menghasilkan banyak ulama. Madrasah yang didirikan lebih dari satu abad ini, menurut Habib Abdullah Bagir, merupakan perintis sekolah-sekolah Islam modern yang kemudian berkembang pesat di kota-kota lain.

Menurut sejumlah orang tua di kota Pekalongan, berdasarkan penuturan ayah atau mereka yang hidup pada masa Habib Ahmad, beliau selalu tampil dengan rendah hati (tawadlu'), suka bergaul dan marah bila dikultuskan.

Kendati demikian, menurut cicit beliau, Habib Abdullah Bagir, "Beliau tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum Allah atau melihat orang yang meremehkan soal agama, seperti menegakkan amar ma'ruf nahi munkar". Menurut Habib Bagir, kakeknya ibarat khalifah Umar bin Khattab yang tegas menentang setiap melihat kemungkaran, tidak peduli yang melakukannya itu orang awam atau pejabat tinggi.

Sebagai contoh, para wanita tidak akan berani lalu lalang di depan kediaman beliau tanpa mengenakan kerudung atau tutup kepala. Pernah seorang istri residen Pekalongan dimarahi karena berpapasan dengan beliau tanpa menggunakan tutup kepala. Cerita-cerita yang berhubungan dengan tindakan Habib Ahmad ini sudah begitu tersebar luas di tengah masyarakat Pekalongan. Bahkan, setiap ada perayaan yang menggunakan bunyi-bunyian seperti drumband, mulai dari perempatan selatan sampai perempatan utara Jl. KH. Agus Salim tidak dibunyikan karena akan melewati rumah beliau. Beliau juga sangat keras terhadap perjudian dan tidak ada yang berani melakukannya di kota ini saat beliau masih hidup.

Keberanian beliau dalam menindak yang mungkar itu rupanya diketahui oleh sejumlah sahabatnya di Hadramaut. "Saya kagum dengan Ahmad bin Thalib Al-Attas yang dapat menjalankan syari'at Islam di negeri asing, negeri jajahan lagi", kata Habib Ahmad bin  Hasan Al-Attas, seorang ulama dari Hadramaut.

Habib Ahmad yang kegiatan sehari-hari lebih banyak di Masjid Wakaf Jl. Surabaya, pada akhir hayatnya mengalami patah tulang pada pangkal paha akibat jatuh hingga tidak dapat berjalan. Sejak itu, beliau mengalihkan kegiatannya di kediamannya termasuk shalat berjamaah dan pengajian.

Sakit tersebut berlanjut hingga beliau wafat pada malam Ahad, 24 Rajab 1347 H atau 1928 M, dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di pemakaman Sapuro, Kota Pekalongan. Namun, peringatan haul beliau diselenggarakan pada setiap tanggal 14 Sya'ban, bersamaan dengan malam Nisfu Sya'ban, yang setiap tahun dihadiri ribuan orang termasuk dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan seluruh santri di Nusantara.

Ketika beliau wafat, hampir seluruh penduduk kota Pekalongan dan sekitarnya mengantarkan jenazah beliau ke tempat peristirahatan terakhir. "Belum pernah di kota Pekalongan terdapat pengantar jenazah seperti ketika wafatnya Habib Ahmad", tutur Habib Alwi Al-Attas, 70, salah seorang kerabat beliau.

Karena itulah, setiap haul beliau dihadiri oleh ulama terkemuka, termasuk almarhum KH. Abdullah Syafi'i dan kini dilanjutkan oleh putranya KH. Abdul Rasyid AS, serta KH. Abdurrahman Nawi dari Jakarta, dan para tokoh ulama lainnya.

Bak pepatah gajah mati meninggalkan gading, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas tak pernah surut didoakan oleh ribuan para peziarah, karena amal perbuatan yang dilakukan selama beliau hidup sangat mulia.

diambil dari sumber : http://habibbagir.org/

Pemilihan Ketua PAC IPNU Pekalongan Barat di"Pending" beberapa kali

Menurut pantauan kami, baru kali ini pemilihan Ketua PAC IPNU di pending sampai beberapa kali. Kejadian ini terjadi karena ada perbedaan pendapat atau kesalahpahaman dari peserta dan Pimpinan Cabang IPNU Kota Pekalongan.
Bermula dari kesalahan "kecil" yang sangat fatal.Pimpinan Sidang Tata tertib membacakan kriteria calon ketua PAC berusia 25 tahun. Padahal menurut ketua PC IPNU, Rekan Muhibuddin, "sesuai dengan PD PRT, usia calon ketua PAC adalah 23 tahun" Namun, karena salah dari awal, akhirnya sidang pemilihan ketua terlanjur mencalonkan Rekan M Abid dan Nur Qomar sebagai calon kandidat terkuat.Kedua kandidat tersebut sudah berusia 25 tahun. Dalam hal ini PC IPNU keberatan, karena selain usia kedua rekan tersebut sudah tidak layak jadi ketua menurut PD/PRT, rekan abid saat ini juga masih menjadi Sekretaris PC IPNU Kota Pekalongan. Sehingga akan terjadi tumpang tindih jabatan. Namun, para peserta sidang tidak mau calon yang telah mereka sepakati digagalkan begitu saja. Akhirnya sidang dipending untuk beberapa saat.
Di lain tempat, PAC IPPNU sudah menyelesaikan sidang pemilihan ketua. Dari beberapa kandidat yang masuk tahap pencalonan, diantaranya rekanita Chadziqoh, Eva Masulan dan Ismiyati, akhirnya rekanita Chadziqoh yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak. "Dengan demikian rekanita Chadziqoh keluar sebagai Ketua PAC IPPNU Pekalongan Barat terpilih masa khidmat 2010-2012" demikian disampaikan rekanita Suci Arofah, PC IPPNU Kota Pekalongan.
Setelah dipending beberapa saat, Sidang pemilihan ketua PAC IPNU dilanjut lagi. Kali ini PC IPNU Kota Pekalongan memberikan pengertian mengenai aturan PD PRT yang berlaku, agar pemilihan diulang lagi untuk memilih ketua yang kriterianya sesuai aturan Organisasi. Namun peserta bersikeras untuk memilih rekan Abid atau rekan Qomar untuk menjadi ketua. Alasan peserta sidang, rekan qomar atau rekan abid nantinya bisa mengkader pengurus PAC dibawahnya. Kalau masih baru semua, siapa yang akan mengkader..? "Untuk mengkader pengurus baru, tidak mesti menjadi ketua, Apakah rekan-rekan bisa menjamin kalo rekan Qomar dan Rekan Abid yang jadi ketua, terus PAC IPNU bisa berjalan lancar..? Siapa yang berani menjamin..?" Ujar Farid HF, alumni PAC IPNU yang dipaksa ikut menengahi perdebatan peserta sidang dan PC IPNU. "Kalau mereka yang jadi ketua, akan terjadi penumpukan kader dan hal ini tidak boleh terjadi di PAC Pekalongan Barat. Karena kita punya banyak kader yang masih layak memimpin dalam usia yang relatif muda" Sidang akhirnya  dipending lagi, karena dari peserta tidak ada yang mau memberikan suaranya.
Setelah Sholat Maghrib, muncul rekan Falahy dan rekan Faizin masuk ke ruang sidang. Mereka berdua pernah menjadi Ketua PAC IPNU Pekalongan Barat. "Rekan Abid setelah lulus dari sekertaris PC IPNU, kemudian akan menjadi Sekertaris GP Ansor, kalo kalian masih bersikeras menjadikan rekan Abid menjadi Ketua PAC IPNU, berarti kalian menghambat karir organisasinya" ujar Rekan Falahy memberikan gambaran-gambaran kepada peserta sidang.
Tak lama kemudian rekan Falahy keluar dari SIdang. Dan Akhirnya diputuskan bahwa Pemilihan Ketua diulang lagi. Terpilih Rekan Darmawan (Tirto), Rekan Zidni (Bendan) dan Rekan Ulil (Pringlangu) dalam tahap pencalonan. Akhirnya penghitungan suara dimulai. Dari 8 utusan Ranting, 4 Ranting memilih rekan Zidny, 3 ranting memilih rekan Darmawan dan Rekan Ulil mendapat satu suara. Diiringi dengan Sholawat nabi, akhirnya terpilih rekan Zidny untuk memimpin PAC IPNU Pekalongan Barat masa Khidmat 2010-2012.
SELAMAT DAN SUKSES KEPADA KETUA TERPILIH. SEMOGA PAC IPNU IPPNU SEMAKIN MAJU DAN DINAMIS,
(AA)

Hiruk Pikuk Konferancab PAC IPNU IPPNU Pekalongan Barat X

"...malam ini malam terakhir bagi kita..."sebait lagu tersebut tersenandungkan oleh rekan-rekanita Pengurus PAC IPNU IPPNU Kecamatan Pekalongan Barat.

22 Juli 2010, kamis malam Jum'at merupakan malam terakhir bagi Pengurus Ancab Barat masa khidmat 2008-2010. Karena tgl 23 Juli, PAC IPNU IPPNU Pekalongan Barat akan menyelenggarakan Koferensi Anak Cabang (Konferancab) yang ke-10. Konferancab ini akan menentukan masa depan PAC IPNU IPPNU selama 2 tahun ke depan. "Agenda acaranya meliputi : Opening Ceremony, Sidang Pleno untuk mendengarkan dan menanggapi serta mengasahkan Laporan Pertanggungjawaban periode 2008-2010, dan dilanjutkan dengan sidang-sidang komisi yang dirangkai dengan sidang pleno untuk memilih Ketua Baru masa khidmat 2010-2012" demikian disampaikan Rekan Mahsun Ali Munandar, Ketua PAC IPNU Pekalongan Barat 2008-2010.

Semalam, mereka telah mengadakan Opening Ceremony Konferancab. Bertempat di SD Islam Kergon, Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan dari MWC NU Pekalongan Barat, Drs Ilyas Mu'in dan Abd. Rouf, ST. Hadir lupa Ketua PC GP Ansor Kota Pekalongan yang baru terpilih beberapa waktu yang lalu, Bapak Marhani serta ketua PAC GP ANsor Pekalongan Barat, Bapak Fatkhurohman MS. Beberapa alumni dan pembina yang diundang juga nampak hadir di pembukaan KOnferancab X.
Setelah acara Pembukaan, dilanjutkan dengan parade seni persembahan dari Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat se-Kec. Pekalongan Barat. Penampilan pertama dari PR IPPNU Tirto, yang menampilkan qosidah rebana. disusul dengan aksi mendebarkan dari PR IPNU Pasirsari yang menyajikan atraksi menggoreng krupuk dengan tangan kosong, membengkokkan sendok, mengubah asap rokok menjadi uang dll. Penampilan yang ketiga dari PR IPNU IPPNU Medono yang mempersembahkan kolaborasi seni puisi, rebana dan sholawat. Yang terakhir tampil adalah perwakilan dari Pimpinan Komisariat MTs S Al Muttaqien Medono berupa penampilan sulap.

Sedangkan untuk acara Jum'atnya, akan digelar di MTs Nurul QOmar Kergon. Ketua Panitia Pelaksana Rekan M. Ulil Huda mengatakan di sela-sela acara pembukaan "Dari Sidang-sidang komisi sampai Pemilihan Ketua Baru periode 2010-2012 akan dilaksanakan di Mts Nurul Qomar, karena di SDI Kergon kami cuma diijinkan untuk menempati Aula dan Musholla. Sedangkan untuk sidang-sidang kami membutuhkan banyak ruangan"

Dari rumor yang beredar, telah terbentuk bursa kandidat calon ketua PAC IPNU maupun Ketua PAC IPPNU masa khidmat 2010-2012. Dari pantauan kami, telah muncul nama kandidat yang kuat, diantaranya untuk PAC IPNU :

**M. Ulil Huda yang saat ini menjadi Ketua Pelaksana Konferancab X. Ulil juga pernah memimpin PR IPNU Kelurahan Pringalangu. Dari silsilah, ulil merupakan adik rekanita Naelatul Munayati (pernah menjadi Ketua PAC IPPNU Pekalongan Barat), adik dari rekan M Falahy Sidqy (pernah menjabat ketua PAC IPNU Pkl. Barat, juga pernah menjadi ketua Pimpinan Cabang IPNU Kota Pekalongan periode 2007-2009), sedangkan kakaknya ulil yang masih aktif adalah M Muhibudin yang merupakan ketua PC IPNU Kota Pekalongan periode 2009-2011 (masih berjalan).
**Rekan Aris Fatkhurohman, salah seorang pengurus PAC IPNU periode 2008-2010, aktif di CBP Kota Pekalongan
**Rekan Fery, aktivis IPNU yang juga wakil ketua PAC IPNU periode 2008-2010, pernah memimpin PR IPNU Tegalrejo
**dan banyak lagi yang lainnya

sedangakan untuk kandidat PAC IPPNU, muncul beberapa nama yang mempunyai kanz besar untuk menjadi ketua PAC IPPNU periode 2010-2012, diantaranya :
**Rekanita Eva Mas'ulah, Pengurus PAC IPPNU yang pernah mempimpin PR IPPNU Tegalrejo
**Rekanita Chadziqoh, Sekretaris PAC IPPNU periode 2008-2010 yang juga adik dari rekanita Chauliyah, ketua PAC IPPNU periode 2008-2010.
**Rekanita Evi, aktivis IPPNU dari Ranting Pringlangu.
"Semoga Konferensi Ancab ke-10 ini berjalan lancar, tanpa hambatan dan menghasilkan kader-kader yang militan dan tahan banting" Demikian harapan dari Rekanita Nur Fitriyani, ketua PAC IPPNU Pekalongan Barat.(AA)

TAHUN AJARAN BARU, PC IPNU ikut sibuk....

Sejak hari senin kemarin, 12 Juli 2010, teman-teman dari SD maupun SMP memasuki tahun pelajaran baru. Banyak wajah-wajah baru menghiasi SD, SMP dan SMA yang ada di Kota Pekalongan. Mereka adalah murid baru. Tampak dari tingkah mereka yang masih canggung, masih mencari teman baru, mulai mengenal lingkungan baru di sekitar mereka.
Bagi rekan-rekan PC IPNU Kota Pekalongan dan dibantu oleh PAC IPNU dari 4 kecamatan, Barat, Timur, Utara dan Selatan bahu membahu untuk memberikan materi Ke-IPNU-an di Sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan LP Ma'arif Kota Pekalongan. Banyak dari Sekolah-sekolah yang mengundang mereka untuk mengisi MOS (Masa Orientasi Sekolah) meskipun pada tahun ini PC IPNU tidak melayangkan surat kerjasama untuk acara MOS. Mungkin sudah menjadi kebiasaan bahwa Materi IPNU di acara MOS yang ngisi harus dari IPNU sendiri, jadi secara otomatis dari sekolah-sekolah tersebut memberikan jadwal MOS.
Banyaknya jadwal MOS yang berbarengan, membuat PC IPNU harus membagi-bagi personilnya untuk memenuhi undangan dari pihak Sekolah. belum lagi, jika ada sekolah yang minta agar difasilitasi untuk acara perkemahan (KBO-Kemah Bakti OSIS) atau KBI (Kemah Bakti IPNU/Makesta).

SELAMAT MENEMPUH TAHUN AJARAN 2010-2011

Ranting IPNU IPPNU se- Pekalongan Utara Gelar Makesta Gabungan

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Ranting se Anak Cabang Pekalongan Utara menggelar kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) gabungan bertempat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kambangan, Kecamatan Blado Kabupaten Batang pada hari Kamis - Sabtu, tanggal 1-3 juli 2010

Selaku ketua panitia adalah Wasurin, seorang tabib asal Kelurahan Panjang Baru. Di tangan Wasurin dan Roziqin (Ketua PAC IPNU Pekalongan Utara) Makesta dikemas dengan nuansa out-bound. Terlihat pada pelaksanaanya di sebuah kompleks Sekolah yang terletak di daerah perbukitan.

"Hal ini untuk menarik minat para peserta, karena selain mendapat ilmu, peserta mendapatkan kegiatan refreshing di alam terbuka yang masih segar udaranya" demikian disampaikan Roziqin

Kegiatan makesta ini diikuti oleh 120 peserta dari Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat se-Kecamatan Pekalongan Utara. "Bahkan ada beberapa orang yang berasal dari PAC IPNU IPPNU Kecamatan Pekalongan Timur" sambung Roziqin

Peserta digembleng dengan materi doktrinal seputar Aswaja dan ke-NU-an serta materi tentang IPNU IPPNU, juga ada materi seputar organisasi dan leadership. Untuk memperkuat kapasitas kader, peserta diajari tentang diskusi dan brain storming, sehingga disamping paham tentang jati diri organisasi peserta juga diharapkan mampu untuk berolah pendapat.

"Materinya sebagaimana materi Makesta standar sesuai dengan Pedoman Pengkaderan" jelas Wasurin. Sedangkan Nara sumbernya diambil dari MWC NU Pekalongan Utara dan Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kota Pekalongan, namun ada juga materi yang diisi oleh alumni PC IPNU IPPNU Kota Pekalongan.

Selamat dan Sukses untuk PC Gerakan Pemuda Ansor Kota Pekalongan 2010-2014

Marhani, mantan Wakil Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Pekalongan periode 2002-2005 akhirnya terpilih sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU) dalam Konferensi Cabang yang digelar Jum'at (25/6) di SMA Hasyim Asy'ari Pekalongan.

Terpilihnya Marhani mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, sejak kemarin suara yang muncul ke permukaan yang bakal mengganti posisi H. Masykur Makmun (Ketua Ansor lama-red) ada tiga nama yakni H, Subhan Musthofa, M. Lutfi dan H. Zimam Hanifun Nusuq, akan tetapi peserta konfercab dari 51 undangan ada 43 yang hadir dan memiliki hak suara, mayoritas lebih memilih Marhani yang tiba-tiba menguat saat konferensi di gelar.

Marhani aktifis muda Nahdlatul Ulama saat ini masih aktif sebagai Wakil Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pekalongan Barat mengaku siap dan bersedia untuk menjadi Ketua GP Ansor Kota Pekalongan selama empat tahun ke depan.
"Karena ini amanah, maka saya bersedia menjadi ketua GP Ansor Kota Pekalongan," ujarnya kepada pendukungnya.

Menurut tata tertib, semestinya proses pemilihan ketua didahului dengan penjaringan calon ketua dengan dukungan minimal 14 suara. namun, setelah diadakan proses penjaringan yang memenuhi ketentuan tata tertib hanya Marhani yang didukung 20 suara. Sedangkan calon lainnya yakni Hasan Yurofi'un 5 suara, Zimam Hanifun Nusuq 10 suara. Kemudian Izzudin 6 suara dan H. Subhan Musthofa 1 suara.

Selanjutnya oleh Pimpinan sidang dari PW GP Ansor Jawa Tengah memberikan keputusan bahwa pada putaran kedua tidak diadakan karena hanya ada satu calon yang memenuhi ketentuan dan langsung ditetapkan untuk menjadi Ketua GP Ansor Kota Pekalongan periode 2010 - 2014.

Selamat kepada rekan Marhani, semoga dapat menghidupkan kembali kehidupan organisasi kepemudaan NU. Mari kita berjuang bersama, meneguhkan dan memperkokoh Islam Ahlussunnah wal Jama'ah an Nahdliyyah.